Islam adalah agama yang
menjunjung tinggi peran akal dalam mengenal hakikat segala sesuatu. Begitu
pentingnya peran akal, sehingga bahkan dikatakan bahwa tak ada agama bagi orang
yang tak berakal, dengan akal yang telah sempurna itulah maka Islam diturunkan
ke alam semesta. Melalui akal, manusia – dengan proses berpikir – berusaha
memahami berbagai realitas yang hadir dalam dirinya, sehinga manusia mampu
menemukan kebenaran sesuatu, membedakan antara haq dan bathil. Sehingga dapat
dikatakan bahwa akal dan kemampuan berpikir yang dimiliki manusia adalah fitrah
manusia yang membedakannya dari makhluk yang lain.
Wahyu pertama yang
diberikan kepada Rasulullah saww bahkan telah memerintahkan beliau saww untuk
membaca, dan membaca tak mungkin dilakukan tanpa menggunakan akal.
Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahapemurah. Yang mengajar dengan
perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(Q.S. Al Alaq [96]: 1–5)
Begitupun dalam kisah
penciptaan Nabi Adam as, Allah Swt mengajarkan “nama-nama” kepada beliau as,
yang dengannya Adam as mengetahui sesuatu. Dengan akal yang dimilikinya, Adam
as mencerap pengetahuan “nama-nama” yang Allah Swt ajarkan padanya.
Dan Dia mengajarkan
kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat
lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama itu jika kamu mamang
orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak
ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
Sesungguhnya Engkaulah yang Mahamengetahui lagi Maha Bijaksana." Allah Swt
berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama ini."
Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama itu, Allah Swt berfirman:
"Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui
rahasia langit dan bumi, serta mengetahui yang tampak dan yang
tersembunyi?" (Q.S. Al Baqarah [2]: 31-33)
Rasulullah Muhammad saww,
diutus ke muka bumi untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan dan kebodohan
yang menjerat manusia ke dalam lumpur kesesatan dan kezhaliman dengan membawa
Kitab dan Hikmah untuk diajarkan kepada manusia, sehingga dengannya manusia
mampu melangkah di jalan yang diridhai Allah Swt, terhindar dari kesesatan dan
meraih kebahagiaan sejati. Seperti dikatakan dalam Al Quran Al Majid Surat Al
Jumu’ah: 2;
Dia-lah yang mengutus
kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, membacakan
ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan dan mengajarkan mereka Kitab dan
Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang
nyata. (Q.S. Al Jumu’ah [62]: 2)
Begitu juga dalam surat
Al Anam: 50, Allah Swt berfirman,
Katakanlah: “Aku tidak
mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula)
aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan bahwa aku seorang
malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.”
Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka
apakah kamu tidak memikirkan?" (Q.S. Al An’am [6]: 50)
Allah Swt pun mempertegas
dalam Al Qur’an Suci surat Al Faathir: 19, berbunyi : "Dan tidaklah sama orang
yang buta dengan orang yang melihat." (Q.S. Al Faathir [35]: 19)
Buta huruf terkadang
diidentikkan dengan kebodohan, karena membaca adalah salah satu cara manusia
untuk mendapatkan pengetahuan pada dirinya. Sehingga jika seseorang tak dapat
membaca, maka pengetahuan yang seharusnya bisa ia dapatkan dari membaca pun tak
mampu ia pahami. Kebodohan pun diidentikkan dengan kegelapan, karena orang yang
tak berilmu diumpamakan ia berada dalam kondisi yang gelap – bagaikan mengalami
kebutaan, tak mengenal cahaya, sehingga tak mengetahui segala sesuatu yang ada
di hadapannya. Sementara ilmu sering diibaratkan dengan cahaya yang menuntun manusia kepada kebenaran, yang dengannya tersingkaplah hijab yang menutupi
manusia.
(Apakah kamu hai orang
musyrik yang lebih beruntung) atau orang yang beribadah di waktu malam dengan
sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharap rahmat
Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang
dapat menerima pelajaran. (Q.S. Az Zumar [39]: 9)
Katakanlah:
"Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah".
Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari
selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula)
kemudharatan bagi diri mereka sendiri?" Katakanlah: "Adakah sama
orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang
benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat
menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut
pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu
dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (Q.S. Ar Ra’d [13]:
16)
Allah menganugerahkan
Hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi
hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya
orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran. (Q.S. Al Baqarah [2]:
269)
Dan ingatlah apa yang
dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah
Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al Ahzab [33]: 34)
Adakah orang yang mengetahui
bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan
orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil
pelajaran, (Q.S. Ar Ra’d: 19)
Hadits Nabi saww,
Rasulullah keluar dan
menuju ke masjid dan tiba-tiba beliau menemukan terdapat 2 majelis di dalamnya.
Yang satu majelis tentang pemahaman tentang keilmuan. Majelis yang lainnya
adalah majelis doa. Kemudian beliau berkata, “Mana yang lebih baik diantaranya?
Yang satu menyeru kepada Allah Swt, sementara yang lain mengajarkan orang-orang
yang bodoh. Sesungguhnya yang kedualah yang lebih afdhal.” Beliau melanjutkan,
“Dengan ilmulah aku diutus.” Kemudian beliau duduk bersama majelis yang
menuntut ilmu.
Imam Ali as berkata
kepada Kumayl,
“Wahai Kumayl, tidak ada gerak
melainkan kamu perlu kepada ilmu.”
Imam Ali pun berkata,
“Hilangnya penglihatan
mata lebih ringan daripada hilangnya penglihatan bathin.”
Dikisahkan bahwa
seseorang dari kaum Anshar kepada Nabi saww, dan berkata, “Wahai Rasulullah,
apabila ada jenazah dan juga di saat yang bersamaan terdapat majelis ta’lim,
mana yang seharusnya aku hadiri?“ Rasulullah saww bersabda, “Jika untuk jenazah
ada orang yang sudah mengikuti dan mengkafankannya, maka menghadiri majelis
orang alim lebih afdhal dari 1000 jenazah, dan lebih baik dari menziarahi 1000
orang sakit, dan bahkan lebih baik dari 1000 rakaat shalat malam, dan lebih
baik dari 1000 hari puasa sunnah, dan lebih baik dari 1000 dirham yang engkau
shadaqahkan kepada anak-anak miskin, dan lebih baik dari 1000 haji yang sunnah,
dan lebih baik dari 1000 peperangan selain yang diwajibkan –baik dengan harta
dan jiwamu, dan di mana saja kau menemukan majelis-majelis seperti ini,
hadirilah. Jika kamu mengetahui bahwa Allah Swt itu ditaati dengan ilmu,
disembah dengan ilmu, dan kebaikan dunia dan akhirat bersama ilmu. Dan
kejelekan dunia dan akhirat bersama dengan kebodohan.”
Dari Imam Ali, “Janganlah
kamu menyampaikan berita yang kamu tak ketahui.”
Dari Imam Ali, “Hendaknya
kalian (mendapatkan ilmu) dengan penelitian, tidak dengan riwayat.”
Dari Imam Ali, “Ilmu
adalah asal segala kebaikan.”
Hadits dan Ayat tentang Kewajiban Menuntut Ilmu- Orang yang
mempunyai ilmu mendapat kehormatan di sisi Allah dan Rasul-Nya. Banyak ayat
Al-Qur’an yang mengarah agar umatnya mau
menuntut ilmu, seperti
yang terdapat dalam Qs Al Mujadalah ayat 11:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ
Artinya :
Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)






0 komentar:
Berikan Komentarmu
Beritahu kami apa yang Anda pikirkan... !